SEKOLAH PENGURUS LINGKUNGAN, apa perlunya?

Kegiatan

Pada 18 April mendatang, Paroki Administratif St. Maria Mater Dei Bonoharjo akan mengadakan event menarik. Sebuah kegiatan yang melibatkan para pengurus lingkungan, yaitu Sekolah Pengurus Lingkungan. Beberapa waktu lalu, redaksi gerejabonoharjo.net menghubungi Romo FX Sukendar Wignyosumarto, Pr yang akan menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Berikut pengantar awal dari Romo Kendar perihal Sekolah Pengurus Lingkungan tersebut.

Kongregasi untuk Para Klerus, pada tanggal 29 Juni 2020 mengeluarkan dokumen dengan judul “Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki”, sebagai intruksi pertobatan pastoral komunitas paroki dalam pelayanan Misi Evangelisasi Gereja (baca di Seri DokPen KWI no. 121). Dokumen ini aktual untuk situasi zaman ini ketika pandemi COVID-19 melanda hampir seluruh dunia dan mengena pada semua sektor kehidupan. Gereja menanggapi dan bersikap dengan pelbagai macam cara. Satgas dari Keuskupan hingga kevikepan dan Paroki bekerjasama dengan Pemerintah dan perlu taat azas berkaitan dengan Prokes, 3 M, dan juga untuk pelaksanaan ibadat di Gereja termasuk aneka model pertemuan lingkungan.

Peran Ketua dan pengurus Lingkungan tetap menjadi ujung tombak menggerakkan dinamika umat Lingkungan dan akhirnya menghidupkan Gereja Paroki, tidak hanya sisi managerial namun dengan jiwa dan semangat pelayanan berkat permandian yang memasukkan kita dalam Tri Tugas Kristus, sebagai Imam, Nabi, dan Raja. Inilah makna dari permandian yang telah kita terima hingga kemudian terwujud dalam hidup nyata di tengah masyarakat dan keluarga.

Kutipan artikel no 5 dari Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki: Gereja mewartakan bahwa Sabda, “telah menjadi daging dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Sabda Allah itu, yang berkenan tinggal di antara manusia, dalam kekayaannya yang tak terbatas[6] telah diterima di dunia semesta oleh berbagai bangsa, dengan mendorong aspirasi-aspirasi yang paling luhur, di antaranya kerinduan akan Allah, martabat hidup setiap orang, kesetaraan antar manusia dan hormat terhadap perbedaan-perbedaan dalam satu keluarga manusia, dialog sebagai sarana partisipasi, kerinduan akan perdamaian, penerimaan sebagai ungkapan persaudaraan dan solidaritas, perlindungan terhadap ciptaan secara bertanggung jawab.[7]

Maka tak terbayangkan bahwa kebaruan seperti itu, yang penyebarannya sampai ujung dunia masih belum selesai, akan memudar atau lebih buruk lagi, menghilang.[8] Agar perjalanan Sabda terus berlanjut, perlulah di komunitas-komunitas kristiani dibuat suatu pilihan misioner menentukan, yang “mampu mengubah segala sesuatu sehingga kebiasaan-kebiasaan Gereja, cara-cara melakukan segala sesuatu, waktu dan agenda, bahasa dan struktur dapat disalurkan dengan tepat untuk evangelisasi dunia masa kini daripada untuk pertahanan diri.”

Tugas misioner melekat dari pembatisan yang telah kita terima. Misteri Paskah yang akan kita rayakan dengan persiapan selama 40 hari masa Prapaskah dan memuncak dalam Tri Hari Paskah, seyogiyanya menjadi landasan hidup yang terus menggerakkan kita untuk aktif terlibat dalam Gereja, Lingkungan, dan Masyarakat kita.

Download Dokumen Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki

Sumber: http://www.dokpenkwi.org/, https://twitter.com/omkpemalang