Mantra Simbok

Pengalaman Iman

Sampul buku Belaian Simbok (Kang Yoto Membawa Bojonegoro ke Pentas Dunia), karya Kristin Samah dan Ari Junaedi (Gramedia Pustaka Utama, 2017) menyembul diantara timbunan kertas di meja kantor. Mengusik mata yang lelah karena tak biasa berjam-jam tatap layar komputer di kala virus jenis RNA membombardir peradaban dunia. Suatu kebetulan yang memang betul terjadi, ketika sambil kulirik kalender, ternyata menunjukkan penghujung April. Sebuah bulan yang memancarkan keagungan perempuan. Bulan dimana kaum hawa yang dianggap selalu lemah, mampu menunjukkan gema suaranya di atas bumi pertiwi. Trinil yang dianggap sebagai burung kecil tak diperhitungkan telah menjelma menjadi Elang Jawa Kartini nan perkasa. Sesungguhnya betapa perkasanya seorang perempuan.

Suatu kebetulan yang memang betul terjadi, pembangunan gereja “Saron” Bonoharjo di dekat rumah sudah dimulai. Barusan berdiskusi dengan Pak Ismanto, seorang pematung profesional dari Magelang, tentang patung batu kali setinggi tiga meter dengan berat lebih dari satu ton yang dipesan panitia pembangunan gereja. Patung sesosok perempuan yang menggendong bayi dengan penuh kasih sayang. Sosok Maria bunda Yesus yang bukan mengenakan busana budaya padang pasir, tapi memakai jarik, kebaya, dan rambut bergelung Jawa. Sosok ibu yang selalu dekat dengan kita, tapi kadang kita yang selalu menjauhkan gambaran seorang ibu sesungguhnya.

Suatu kebetulan yang memang betul terjadi, beberapa hari lalu aku mengobrol dengan Pak Herjaka, H.S., seorang maestro lukis wayang. Manakala ia bercerita dan berangan bahwa lukisan Perjamuan Terakhir (The Last Supper) versi Leonardo Da Vinci sebenarnya tidak hanya tampak tiga belas orang laki-laki. Tapi di belakang para lelaki yang duduk, ada Maria Magdalena dan perempuan lain yang melayani perjamuan malam tersebut. Banyak perempuan yang menyiapkan hidangan Paskah. Sosok perempuan adalah sosok kunci yang kadang tidak tampak dan jauh dari hiruk pikuk pansos.

Pandemi SARS Cov-2 ini menjadikanku semakin bersahabat dengan simbok karena buku. Virus tak terlihat itu mengajariku untuk berefleksi semakin mendalam. Simbok, menjadi figur permenunganku. Setiap hari, setiap Suyoto bersiap mau berangkat sekolah, Simbok menuangkan minyak kelapa di telapak tangannya. Dengan minyak itu, ia mengusap-usap kepalanya. Di kemudian hari, ia yakin, usapan minyak kelapa itu pasti disertai doa agar anak-anaknya diberi keteguhan dalam menuntut ilmu, diberi kebajikan dalam menjalani kehidupan, dan diberi kemudahan setiap apa pun yang kan terjadi. Ritual pagi yang diakukan Simbok sejak sekolah dasar hingga Tsanawiyah itu tidak akan pernah dilupakan. Sebuah kesederhanaan cinta kasih ibu pada anak-anaknya yang tak akan lekang dimakan zaman. Itulah mantra tangan Simbok. Kisah Kang Yoto, Bupati Bojonegoro. Sebuah daerah, satu di antara 15 daerah percontohan dunia untuk praktik pemerintahan terbuka; sejajar dengan kota Paris (Perancis), Madrid (Spanyol), dan Seoul (Korea Selatan).

Kata “mantra tangan Simbok” seakan menghipnotis perasaanku untuk membongkar masa kecil. Simbok (Ibu, Mama, Mace, Kindo, Anrong, Ende, Ina, Biyang, Amak, Nande, Ine) tampak sebagai manusia yang biasa-biasa saja. Dalam pemeo Jawa yang cenderung menjadi ejekan dan simbol ketidakberdayaan, simbok seringkali diidentikkan dengan “4 ah”: tukang asah-asah, momong bocah, ngresiki omah, dan ngladeni simah. Pikirku, lantas apa salahnya dengan predikat itu? Bukan suatu kesalahan manakala seorang simbok mencuci perabotan piring, gelas, sendok, dan kawan-kawannya. Apakah dosa jika seorang simbok selalu merawat, menemani, dan menjaga anak-anaknya? Bukan kekonyolan pula saat di tengah kesibukannya, seorang simbok memiliki rutinitas membersihkan rumah. Bukan pula sebuah aib ketika seorang simbok dengan tulus ikhlas melayani dan membantu suami.

Peran-peran itulah yang selama ini aku anggap sebagai hal yang wajar dan biasa. Tapi kesadaran muncul ketika aku melihatnya di saat dewasa ini. Ternyata itulah mantra tangan simbok. Tidak hanya sejauh mengelus-elus kepalaku jelang tidur. Tapi setiap peran dalam keluarga, setiap pekerjaan sederhana yang dilakukan dengan senyum kasih; itulah mantra kedamaian. Bukan glorifikasi diri yang diharapkan, tapi sebuah kebahagiaan dalam keluarga.

Simbok Adalah Guru

“Ez zijn drie milieu’s in het leven des kinds, welke als opvoedingscentra grooten invoed op de ontwikkeling van het kinderlijk gemoed uitoefenen, met naam het Gezin, de School en de Jeugdbeweging.” (Di dalam hidup anak-anak ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda).

Itulah ide cemerlang tokoh besar pendidikan bangsa ini, Ki Hadjar Dewantara, yang dimuat dalam Brocuren-Seri “Wasita” tahun 1938 dengan judul De hoofdlijnen van ons Tripoesat Opvoedingssysteem. Petuah bijak yang terkenal dengan istilah Tripoesat (Sistem Trisentra) menjadikan keluarga sebagai pusat pendidikan yang utama dan pertama. Menurut beliau, orang tua berperan sebagai guru (penuntun), pengajar, dan pemimpin pekerjaan (pemberi contoh). Pendidikan keluarga merupakan pusat pendidikan paling sempurna dibanding pusat-pusat pendidikan yang lain. Di tempat tersebut tidak hanya terbentuk model pendidikan individual, namun juga sosial karena di dalamnya ada proses saling mendidik sebagai perwujudan miniatur masyarakat.

Semisal ada perilaku anak di sekolah yang kadang kala membuat guru bersungut-sungut, itu semua bukanlah mutlak “kehendak” anak itu sendiri, melainkan suasana keseharian keluarga yang membentuk karakternya. Bagaimana mungkin anak memiliki kemauan berbagi, manakala kehidupan orang tuanya selalu eksklusif dan jauh dari peradaban sosial budaya masyarakat di sekitarnya. Bagaimana mungkin anak dapat berpikiran terbuka serta mau menerima masukan dari temannya, manakala dia selalu melihat percekcokan kedua orang tuanya. Anak tidak akan mampu beradaptasi ketika orang tuanya selalu menerapkan helicopter parenting dalam kesehariannya. Tidak mungkin anak akan menunjukkan kesetiaan, ketika setiap saat disuguhi adegan pengingkaran kesetiaan dari orang tuanya. Keluarga adalah kunci pendidikan sepanjang hayat (long life learning); dan simbok menjadi guru dalam keluarga.

Memang bicara dalam konteks seorang guru, ada banyak sintak metode, model, strategi, dan pendekatan dalam mendidik. Kenyataan ini membuat tidak semua cara mendidik tersebut diterima dan dipahami dengan baik. Seperti Kang Yoto yang berkisah bahwa ayahnya mendidik dengan keras, sedangkan simbok mendidik dengan kelembutan. Menangis menjadi cara simbok untuk mendidik Kang Yoto dan saudara-saudaranya agar mau rendah hati dan mendengarkan. Di sisi lain, tak jarang kita juga melihat simbok mendidik menggunakan pendekatan yang agak keras. Masa lalu kadang tidak menerima pendekatan ini, karena memang menganggap seharusnya simbok merupakan sosok yang lebih lemah dari bapak. Tapi permenungan pandemi ini menyadarkan bahwa itu semua hanya cara, tapi yang mau disampaikan simbok adalah mantra kedamaian hidupku kelak. Yang mau dibisikkan simbok adalah mantra ketangguhan, daya juang, dan pantang menyerah.

Tidak jarang pula teman-temanku bercerita hal yang sama. Cara mendidik simbok yang belum bisa diterima dengan baik, bahkan sampai usia dewasa saat ini. Sebenarnya, situasi pandemi ini bisa menjadi jalan, kesempatan, dan sarana untuk melihat kembali mantra-mantra kebaikan simbok. Tidak ada satu mantra pun terucap untuk menjerumuskan apalagi mencelakakan kita. Hanya butuh keterbukaan dan kerendahatian guna mau melihat keindahan masa lalu bersama simbok. Hanya butuh keberanian untuk berdamai dengan situasi masa lalu. Jika tidak berani membangun kedamaian ini, maka ibarat luka di kulit yang tak kunjung sembuh. Meskipun di permukaan kulit tampak halus mulus, tapi di dalamnya ada koreng bekas luka yang masih merah bernanah. Ketika ada orang lain menyenggolnya, maka kita mudah terusik dan marah karena merasa tersakiti. Padahal orang lain tidak melihat luka menganga di permukaan kulit kita. Hanya butuh kesederhanaan untuk melihat wajah simbok di usia rentanya saat ini, di saat ia duduk sendiri di kursi usang beranda rumah menunggu anak dan cucu-cucunyanya pulang ke dalam pelukannya.

Penulis: R. Arifin Nugroho