Mewujudkan Mimpi di Kala Pandemi

Pengalaman Iman

Sudah setahun lebih kita dipaksa beradaptasi akibat pandemi yang tak kunjung berakhir. Sebagai pengajar di perguruan tinggi, saya pun dipaksa harus mengajar, membimbing, dan menguji dengan cara baru. Mengajar di kala pandemi sangat merepotkan. Saya harus belajar bagaimana cara mengajar, membimbing, dan menguji para mahasiswa secara daring. Sudah setahun lebih saya bekerja dari rumah, istilahnya work from home (wfh). Bekerja dari rumah dalam waktu yang relatif lama ternyata membuat jenuh, bosan, dan stres.

            Untuk mengatasi kejenuhan saya mengembangkan bakat: menulis. Ya, saya memiliki bakat menulis. Sejumlah artikel saya pernah dimuat di media lokal dan nasional. Saya juga berpengalaman menulis buku-buku teks (buku pelajaran) dan buku-buku sains. Buku-buku saya telah diterbitkan oleh kelompok Penerbit Gramedia. Beberapa di antaranya adalah “Ayo Bermain Sambil Belajar Fisika” (Bhuana Ilmu Populer, 2012), Asyik Belajar Fisika (Grasindo, 2013), dan Praktis Menguasai Matematika SD/MI (Grasindo, 2019). Buku-buku saya memiliki sasaran pembaca beragam, mulai jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Buku saya pertama kali terbit tahun 2002, judulnya “Matematika untuk Fisika dan Teknik 1”. Saya memutuskan menulis buku karena termotivasi Tung Desem Waringin dalam bukunya yang sangat fenomenal, “Financial Revolution” (Gramedia Pustaka Utama, 2005). Tung mengatakan, mengembangkan bakat dapat menjadi jalan untuk kaya. Keanu Reeves, Celine Dion, dan JK Rowling adalah contoh orang-orang berbakat di bidangnya. Mereka menjadi kaya raya karena mampu mengembangkan bakatnya. Sejak 2002 hingga kini saya telah berhasil menerbitkan buku-buku teks dan buku-buku sains sebanyak 40 judul. Akan tetapi, saya merasa belum puas karena selama ini buku-buku saya selalu berorientasi pada buku pelajaran sekolah. Menulis buku selain buku sekolah masih menjadi impian.

      Untuk mewujudkan mimpi, selama pandemi saya mengikuti sejumlah webinar yang berkaitan dengan dunia perbukuan. Belajar Menulis Opini, Editor’s Clinic, dan Jurus Menembus Penerbit adalah beberapa contoh topik webinar yang saya ikuti. Saya pun mengikuti sharing penulisan naskah nonfiksi bersama editor-editor senior Gramedia Pustaka Utama (GPU). Acara yang bertajuk Bedah Naskah ini diselenggarakan pada Sabtu, 18 Juli, 25 Juli, dan 1 Agustus 2020 melalui aplikasi Zoom. Acara ini sangat menarik karena peserta webinar diberi rambu-rambu mengenai naskah yang layak terbit.  Meskipun kegiatan diselenggarakan melalui aplikasi Zoom, saya mengikuti seluruh kegiatan dengan serius. Salah satu pembicara mengatakan, kisah dan pengalaman pribadi adalah aset berharga dan memiliki makna serta bermanfaat jika dibagikan. Ungkapan ini menjadi pemicu saya untuk segera mewujudkan mimpi: menulis buku nonteks pelajaran. Peserta webinar juga diberi buku dengan judul “Menciptakan dan Memasarkan Karya Abadi yang Terus Dicari” karya Ryan Holiday (Gramedia Pustaka Utama, 2017). Pada buku ini ada satu paragraf yang dapat memberi semangat dan inspirasi kepada pembaca yang ingin benar-benar menjadi penulis. Berikut kutipannya: Penulis novel klasik 1984 dan Animal Farm George Orwell pernah memperingatkan calon penulis tentang “bahaya” profesi penulis dalam esainya berjudul “Why I Write”. Menurutnya, “Menulis buku adalah pergulatan yang mengerikan dan melelahkan, ibarat melawan penyakit berat dalam waktu yang lama. Yang mau melakukannya cuma orang yang merasakan dorongan bagaikan kerasukan, yang tidak sanggup ia lawan ataupun pahami (Ryan Holiday, 2017: 11).

Seperti telah diuraikan pada bagian awal tulisan ini, saya menulis buku teks sejak tahun 2002. Setiap buku yang saya tulis dan berhasil diterbitkan selalu memiliki cerita. Suka duka ditolak penerbit beberapa kali merupakan pengalaman hidup yang layak dibagikan kepada pembaca, khususnya orang-orang yang berminat menjadi penulis buku. Setelah mengikuti webinar Bedah Naskah, akhirnya saya berniat menulis buku tentang “perjalanan” setiap buku yang saya tulis dari ide sampai menjadi naskah yang layak diterbitkan. Untuk mewujudkan niat ini saya mengumpulkan sejumlah dokumen penting setiap buku yang telah terbit: file naskah, perjanjian penerbitan, proses editing, dan laporan penjualan. Akhirnya, buku berjudul “Merangkai Kata Menjelaskan Makna” selesai saya tulis. Naskah saya kirim melalui digital publishing system (DPS) yaitu website yang menjembatani antara penulis dan penerbit yang berada di bawah grup Penerbit Gramedia. Naskah dikirim pada 10 Agustus 2020 pukul 20:27 dengan tiga pilihan penerbit: Gramedia Pustaka Utama Non-Fiksi, Grasindo, dan Bhuana Ilmu Populer (BIP). Setelah sekian lama menunggu, pada 4 Desember 2020 saya mendapat informasi dari BIP kalau naskah tidak bisa diterbitkan dalam bentuk cetak. BIP menawarkan buku diterbitkan dalam bentuk e-book, meskipun tetap harus melalui tahapan review dari BIP Digital. Jika lolos kriteria, saya sepakat naskah diterbitkan dalam versi e-book. Akhirnya, pada 16 Januari 2021 saya mendapat kabar bahwa naskah bisa diterbitkan oleh BIP versi e-book. Surat perjanjian penerbitan sudah ditandatangani kedua belah pihak pada 24 Februari 2021. Kini naskah sedang dalam tahap editing. Buku “Merangkai Kata Menjelaskan Makna” adalah naskah pertama yang saya tulis selama pandemi. Jika pemerintah tidak membuat kebijakan wfh untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona, rasanya naskah buku ini sulit diwujudkan.

Selama pandemi saya juga menulis naskah yang berjudul “Belajar Fisika untuk Hidup yang Lebih Baik”. Naskah ini terinspirasi dari buku yang berjudul “Sainspirasi Inspirasi Kehidupan Berdasarkan Fenomena Sains” karya Doni Swadarma (Elex Media Komputindo, 2015). Buku ini cerita tentang fenomena sains (fisika, kimia, dan biologi) yang dapat menjadi inspirasi hidup. Sebagai dosen fisika yang sudah mengajar hampir 30 tahun, saya juga memiliki pengetahuan bahwa banyak fenomena fisika yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. Bahkan, belajar fisika mampu menggugah kesadaran akan kekuasaan Tuhan.

            Kita sering mengabaikan fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan. Pelangi yang tampak warna-warni, Bulan selalu menampakkan wajah yang sama, dan sebuah batu apabila dilempar ke udara pasti akan jatuh ke tanah, merupakan peristiwa alam yang jauh dari perhatian kita. Namun, fenomena alam yang sangat sederhana semacam ini sering kali menjadi awal ditemukannya hukum atau rumus fisika yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Sir Isaac Newton dapat menjadi ilmuwan besar karena penemuannya mengenai Hukum Gravitasi Universal hanya berawal dari melihat buah apel yang jatuh dari tangkainya. Penemuan hukum Archimedes juga berawal dari fenomena sederhana yang terjadi di bak mandi. Hukum Archimedes mampu menjelaskan fenomena mengapa kapal selam dapat berada pada tiga keadaan: mengapung, melayang atau tenggelam.

            Jika kita mengamati Bulan, tampak bahwa sepanjang waktu Bulan selalu menampakkan permukaan yang sama. Peristiwa alam ini sebenarnya menimbulkan pertanyaan besar, mengapa demikian? Jika kita belajar fisika, peristiwa ini dapat terjadi karena periode rotasi Bulan sama dengan periode revolusinya. Periode rotasi Bulan adalah waktu yang diperlukan Bulan untuk berputar satu kali terhadap poros atau sumbu putarnya.  Periode revolusi Bulan adalah waktu yang diperlukan Bulan untuk mengelilingi Bumi dalam orbitnya. Kedua periode ini memiliki waktu yang sama, 27,3 hari. Artinya, apabila Bulan berotasi  30 persen dari satu rotasi penuh, pada saat yang sama Bulan juga telah mengelilingi Bumi (berevolusi) 30 persen dari satu keliling penuh. Peristiwa alam ini sungguh luar biasa. Peristiwa alam ini terjadi karena kekuasaan-Nya. Bumi (massa 5,97 × 1024 kg, jari-jari 6.378 km) dan Bulan (massa 7,34 × 1022 kg,  jari-jari 1.737 km) yang jarak keduanya sekitar 384.000 km masing-masing dapat bergerak dengan sangat sinkron. Belajar fisika dapat menjadi sarana untuk semakin percaya bahwa gerak benda-benda langit yang sangat  rapi dan teratur ini pasti ada yang mengaturnya. Sudah layak dan sepantasnya apabila manusia percaya kepada Sang Pengatur alam semesta.

Kita dapat juga belajar dari pelangi. Pelangi menunjukkan simbol keberagaman. Alam sudah mengajarkan keberagaman. Warna-warni pelangi (merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu) saling berdampingan dan bersatu sehingga tampak indah. Manusia juga memiliki keberagaman dalam banyak hal, misalnya: budaya, suku, agama, dan warna kulit. Kita harus merawat keberagaman supaya dunia menjadi indah.

Terinspirasi buku karya Doni Swadarma  saya menulis buku yang berjudul “Belajar Fisika untuk Hidup yang Lebih Baik”. Isinya tentang fenonema fisika yang dapat digunakan sebagai sumber inspirasi. Buku ini disusun untuk menyadarkan kepada pembaca bahwa alam dan fenomena yang terjadi di dalamnya merupakan guru terbaik sekaligus sumber inspirasi. Terinspirasi George Orwell, melalui kerja keras yang tidak mengenal lelah, akhirnya saya dapat menulis 33 topik fenomena fisika yang sangat inspiratif. Beberapa di antaranya adalah Alam Telah Mengajarkan Efisiensi, Model Atom Bohr dan Perilaku Koruptif, dan Belajar Adil Seperti Matahari.

Setelah naskah dirasa sempurna, naskah saya kirim ke penerbit di bawah payung Penerbit Gramedia melalui DPS. Naskah diunggah pada 15 April 2020. Saya memilih tiga penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Elex Media Komputindo Non-Fiksi, dan Grasindo. Setelah menunggu hampir setahun, status naskah di dps.gramedia.com tidak pernah berubah: di bank naskah. Untuk memeroleh kejelasan status naskah, pada 10 Februari 2021 saya kontak Admin DPS. Jawabannya, naskah saya belum memenuhi kualifikasi penerbit yang dipilih. Admin pun mempersilakan jika akan menghapus naskah. Akhirnya, naskah saya hapus dari sistem!

Apakah setelah naskah buku ditolak oleh tiga penerbit kecewa? Pasti! Putus asa? Tidak! Pengarang sekaliber JK Rowling pun pernah mengalami ditolak penerbit. Pada tahun 1995, Rowling berhasil menyelesaikan buku pertamanya: Harry Potter and the Phiosopher’s Stone. Ia mulai menawarkan karyanya ke penerbit. Ia hampir putus asa karena sebagian besar penerbit menolak Harry Potter. Alasannya, kisahnya dianggap tidak masuk akal, terlalu berkhayal, dan kurang membumi. Bahkan, ada yang mengatakan naskahnya tidak menarik.   Seperti yang saya ceritakan dalam buku “Merangkai Kata Menjelaskan Makna”, ada naskah saya yang pernah ditolak oleh tiga penerbit. Ada pula naskah saya yang ditolak oleh sebuah penerbit kecil yang belum memiliki reputasi. Tanpa putus asa, naskah itu saya poles ulang dan saya kirim ke penerbit besar, ternyata diterima. Benar, kata-kata bijak: biarkan tulisan menemukan takdirnya sendiri.

Meskipun naskah “Belajar Fisika untuk Hidup yang Lebih Baik” telah ditolak oleh 3 penerbit, saya tetap merasa yakin bahwa naskah ini adalah naskah bagus, unik. Naskah saya edit lagi, termasuk memberi tambahan ilustrasi sehingga menjadi lebih menarik. Dengan semangat pantang menyerah, naskah kembali saya kirim ke kelompok Penerbit Gramedia melalui DPS. Naskah telah diunggah pada 6 Maret 2021 pukul 20:08 dengan tiga pilihan penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Buana Ilmu Populer,  dan M&C. Saat ini naskah sedang diproses oleh Penerbit Bhuana Ilmu Populer dengan Status Naskah Review ke-1.

Pandemi akibat Covid-19 telah memaksa saya bekerja dari rumah. Kebiasaan baru ini sangat menyiksa, karena keterbatasan dalam banyak hal. Namun, ada satu hal yang diperoleh saat bekerja dari rumah: banyak waktu luang. Sejak diputuskan pemerintah kalau karyawan secara periodik bergiliran bekerja dari rumah, saya bercita-cita mewujudkan mimpi: menulis buku nonteks pelajaran yang diterbitkan oleh penerbit berwibawa. Puji Tuhan, selama setahun beradaptasi dengan kebiasaan baru saya berhasil menulis dua naskah. Naskah pertama berhasil diterbitkan, naskah kedua sedang proses di penerbit. Saya biarkan naskah kedua untuk menemukan takdirnya sendiri.

Bambang Ruwanto

Penulis Buku-buku Sains