Merayakan Kemenangan Paskah: Kebangkitan Yesus

Kegiatan

Ada pertanyaan di kalangan umum, Paskah itu merayakan kematian atau kebangkitan?

Paskah, atau Passover dalam bahasa Inggris, berasal dari kata Ibrani, Pesah. Kitab Suci menghubungkan kata itu dengan akar kata psh, yang artinya ‘timpang/ melangkahi/ melewati’ (lih. 2 Sam 4:4),  1Raj 18:21). Dalam tulah terakhir kepada bangsa Mesir, Allah melangkahi/ melewati rumah-rumah yang melakukan persyaratan Paska (Kel 12:13,23,27).

Dari asal-usul kata tersebut, kita bisa memastikan bahwa Paskah tidak berarti kematian; tapi “melangkahi/ melewati”, dalam hal ini konteksnya adalah Allah melangkahi (rumah-rumah umat-Nya yang ditandai dengan darah kurban anak domba) untuk menghantar mereka mencapai Tanah Terjanji. Maka arti kata “melangkahi/ melewati” ini selalu tidak berdiri sendiri, namun terkait dengan keadaan berikut yang dituju oleh proses melangkahi atau melewati.

Ekaristi Vigili Paskah di gereja St. Yusup Wilayah Sentolo

Dengan berpegang kepada arti ini, Gereja menghubungkan perayaan Paskah ini dengan perayaan Kebangkitan Yesus Sang Anak Domba Allah; sebab melalui kebangkitan Kristus atas kematian-lah, kita umat-Nya dapat dihantar kepada kehidupan kekal di Tanah Terjanji yang sesungguhnya yaitu Surga. Para Rasul kemudian menyebut hari kebangkitan Yesus ini, yang jatuh pada hari Minggu, sebagai Hari Tuhan.

Perayaan Paskah di Paroki Administratif Bonoharjo dimulai dengan Vigili atau Tirakatan jelang Paskah (3/4). Ekaristi Vigili Paskah di gereja St. Yusup Sentolo dipimpin oleh Romo P. Noegroho Agoeng, Pr; di gereja St. Theresia Brosot oleh Romo Mario Antonius Werang, Pr; sedangkan di gereja St. Maria Mater Dei Bonoharjo dipimpin oleh Romo H. Suprihadi, Pr dalam dua kali misa.

Di gereja Bonoharjo, ekaristi dihadiri pula oleh Frater Leonardus Dwi Hananto. Frater asal Lingkungan St. Maria Fatima Srikayangan ini sedang menjalai studi di Seminari Tinggi Kentungan. Selama Tri Hari Suci sedang menjalankan live-in asistensi Paskah di Bonoharjo, tempat kelahirannya. Dalam pesan Paskah, Frater Dwi berharap agar makna mati raga di saat Prapaskah tidak berhenti begitu saja. Tapi hal-hal baik yang diperoleh harus bisa tetap dilakukan saat ini dan seterusnya. Harapannya, umat tetap bertumbuh dalam Kristus, dan berbuah dalam hidup.

Ekaristi Vigili Paskah di gereja St. Theresia Wilayah Brosot

Dalam homilinya, Romo Supri juga memiliki harapan sederhana, “Semoga paskah berikutnya kita sudah misa di gereja yang baru,” kata Romo Supri. Dia mengetuk hati umat dan para donatur agar ikut berperan aktif dalam pembangunan gereja baru yang saat ini tengah berlangsung. Umat juga diminta untuk selalu mendoakan satu kali Salam Maria setiap hari demi keberhasilan pembangunan tersebut. Ekaristi ini juga disiarkan secara live streaming melalui saluran YouTube gereja Bonoharjo.

Hari Raya Paskah (4/4) pagi harinya juga berlangsung khidmat. Di gereja Bonoharjo, ekaristi dipimpin oleh Romo Yohanes Capistrano Satrini Lobi, Pr atau biasa dipanggil Romo Sarce yang berasal dari Keuskupan Agung Ende.

Tim Kepolisian menjaga kemanan Ekaristi Hari Raya Paskah

Sumber: https://www.katolisitas.org