Damar yang Memuliakan Serat Alam

Pengalaman Iman

Agel (Corypha gebanga), eceng gondok (Eichhornia crassipes), pandan (Pandanus amaryllifolius), dan akar wangi (Chrysopogon zizanioides) merupakan tanaman liar yang selama ini hanya dilirik sebelah mata. Bahkan berbagai tanaman ini seringkali dianggap sebagai tanaman pencemar dan pengganggu tanaman komoditas perkebunan. Di ekosistem perairan, eceng gondok bahkan dikategorikan sebagai tanaman pencemar.

Hal ini tidak berlaku bagi Dionysius Damar Laksana Listyanta. Pria kelahiran Salamrejo pada Oktober 1993 ini percaya bahwa semua yang diciptakan Tuhan baik adanya. Semua tanaman pasti bermanfaat dan bisa menjadi sarana manusia untuk semakin mengagungkan Tuhan. Damar mengubah berbagai serat alam tersebut menjadi topi, tas, vas bunga, dan berbagai bentuk kerajinan tangan lainnya.

Produk yang dihasilkan Dianhandycraft Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo, DIY

Berawal pada tahun 1998, kedua orang tuanya mulai merintis kerajinan serat alam. Perjalanan usaha  yang diberi merk Dianhandycraft ini tidak selalu berjalan mulus. Sepeninggal ayahnya pada tahun 2005, kendali usaha dipegang oleh sang ibu. Pada tahun 2016 omset penjualan menurun drastis. “Awalnya saya nerusin usaha keluarga yang memang dari dulu sudah menjalankan usaha. Namun kondisinya sudah bisa dibilang hampir bangkrut”, kenang Damar. Meskipun demikian, ia tidak patah arang. Damar pun mengambil cuti kuliah untuk menghidupkan kembali usaha tersebut. Akhirnya, pada tahun 2018, ia terjun total membanguan Dianhandycraft. “Perlahan saya mencoba untuk pegang usaha kerajinan ini. Pelan-pelan mulai bangkit kembali. Saya lepaskan kerjaan di LSM dan kuliah saya, karena waktu itu keadaanya cukup susah”, lanjut Damar.

Banyak suka-duka yang telah Damar alami. Di saat musim penghujan, sangat sulit memperoleh bahan baku serat alam. Selain itu, pengeringan bahan baku sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Belum lagi jika pada akhirnya order tidak dibayar. Damar menceritakan kendala lain, “Ada juga kendala sosial masyarakat jawa dengan adat istiadatnya yang akhirnya menuntut saya untuk menyesuaikan antara produksi dan budaya masyarakat. Misalnya, saat musim tanam tiba, sebagian karyawan memilih ke sawah. Begitu pula saat rewang manten (hajatan pernikahan), mereka tidak mengerjakan pekerjaan ini.”

Meskipun demikian, pemuda dari Lingkungan St. Petrus Kanisius-Salamrejo ini tetap saja optimis dan mensyukuri banyak kebaikan yang diperoleh. Terlebih manakala banyak pesanan dan pembayaran customer bisa tepat waktu. Sampai saat ini Dianhandycraft belum melakukan ekspor ke luar negeri. Usahanya baru sebatas suplier perusahaan-perusahaan eksportir di Jogja, Solo, dan Bali. Ke depan, Damar berharap bisa meningkatkan ekspansi pasar dengan memperbanyak produksi dan link promosi melalui berbagai laman media sosial.  

Salah satu bentuk kerajinan serat alam yang diproduksi dari usaha Damar

Damar merupakan sosok yang tangguh mengukir kesuksesan. “Kesuksesan bagi saya pribadi adalah bisa berbagi kebahagiaan kepada seluruh pengrajin dan seluruh rekan kerja saya. Itu merupakan prestasi bagi saya”, kata Damar. “Kalau mereka gak dapet kerjaan, saya yang sedih karena mereka nganggur”, lanjutnya. Di akhir obrolan dengan redaksi gerejabonoharjo.net, ia memberikan pesan kepada para rekan muda bahwa semua tidak ada yang mustahil. Yang penting adalah berani mencoba, berinovasi, dan jangan lupa selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala pemberian-Nya. Ia juga menambahkan karakter yang harus dibangun, yaitu jangan pelit berbagi ilmu, menjadi pribadi berguna bagi orang lain, jujur dan apa adanya, serta bukan sekedar mengejar materi tapi kebahagiaan bisa melihat rekan kerja bisa hidup layak.

“Awal saya terjun banyak produk yang monoton, padahal banyak tawaran item yang sebenarnya pengerjaannya mudah, tapi banyak yang ragu mengerjakannya. Meskipun demikian  saya percaya kalau mau usaha dan mencoba pasti bisa!”, pungkasnya.