Homili Epifani Paus Fransiskus: Orang majus mengajarkan proses menyembahan Yesus

Serba-Serbi

Dalam ekaristi epifani (6/1) di Vatikan (di gereja Indonesia sudah dirayakan pada Minggu, 3/1), Paus Fransiskus mengulas makna tujuan Orang Majus yang datang ke Bethlehem “melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia” (Mat 2:11). Menyembah Tuhan tidaklah mudah dan tidak terjadi begitu saja. Itu membutuhkan kedewasaan spiritual dan merupakan buah dari perjalanan batin yang terkadang panjang. Jika kita tidak menyembah Tuhan, kita akan menyembah berhala. Tidak ada jalan tenga; hanya ada pilihan: Tuhan atau berhala. Seperti halnya kata-kata bijak seorang penulis Perancis, Léon Bloy: “Barangsiapa tidak menyembah Tuhan, ia menyembah iblis”

Bapa Suci menawarkan kepada kita tiga kalimat kunci yang dapat membantu kita untuk memahami lebih lengkap apa artinya menjadi penyembah Tuhan.

Homili Paus Fransiskus dalam Ekaristi Epifani di Vatikan

Pertama, “mengangkat mata kita“.  Kalimat ini berasal dari nabi Yesaya yang ditujukan kepada warga Yerusalem, yang baru saja kembali dari pengasingan dan putus asa karena tantangan dan kesulitan besar, untuk melihat sekelilingnya. Dia mendesak mereka untuk mengesampingkan keletihan dan keluhan mereka, melepaskan diri dari kemacetan cara pandang yang sempit, membuang kediktatoran diri, melepaskan godaan untuk menarik ke dalam diri sendiri. Untuk menyembah Tuhan, pertama-tama kita harus “mengangkat mata kita”. Dengan kata lain, jangan biarkan diri kita terkurung oleh hantu khayalan yang melumpuhkan harapan. Jangan menjadikan masalah dan kesulitan sebagai pusat kehidupan kita. Ini tidak berarti menyangkal kenyataan atau menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa semuanya baik-baik saja. Sebaliknya, ini adalah memandang masalah dan kecemasan dengan cara baru, mengetahui bahwa Tuhan mengetahui masalah kita, memperhatikan doa-doa kita, dan tidak mengabaikan air mata yang kita tumpahkan.

Cara melihat ini menimbulkan rasa syukur berbakti. Saat ini terjadi, hati kita menjadi terbuka untuk beribadah. Di sisi lain, ketika kita hanya fokus pada masalah, dan menolak untuk mengangkat pandangan kita kepada Tuhan, ketakutan dan kebingungan merayap ke dalam hati kita, menimbulkan kemarahan, kebingungan, kecemasan dan depresi. Kemudian menjadi sulit untuk menyembah Tuhan. Ketika kita mengangkat pandangan kita kepada Tuhan, masalah hidup tidak akan hilang. Meskipun demikian, kita merasa yakin bahwa Tuhan memberi kita kekuatan untuk menghadapinya.

Kegembiraan duniawi didasarkan pada kekayaan, kesuksesan atau hal serupa. Itu semua selalu menjadikan diri kita sendiri sebagai pusatnya. Sukacita para murid Kristus didasarkan pada kesetiaan Tuhan, yang janji-janjinya tidak pernah gagal, apapun krisis yang mungkin kita hadapi. Rasa syukur dan kegembiraan membangkitkan dalam diri kita keinginan untuk menyembah Tuhan yang tetap setia dan tidak pernah meninggalkan kita.

Kedua,  “memulai perjalanan“.  Sebelum para Majus bisa menyembah Anak di Betlehem, mereka menempuh perjalanan yang panjang. Perjalanan selalu melibatkan transformasi atau perubahan. Setelah melakukan perjalanan, kita tidak lagi sama. Selalu ada sesuatu yang baru tentang mereka yang telah melakukan perjalanan. Mereka telah mempelajari hal-hal baru, menemukan orang dan situasi baru, serta kekuatan batin di tengah kesulitan dan risiko yang mereka hadapi di sepanjang perjalanan. Tidak ada yang menyembah Tuhan tanpa terlebih dahulu mengalami pertumbuhan batin yang berasal dari memulai sebuah perjalanan.

Kita menjadi penyembah Tuhan melalui proses bertahap. Misalnya, cara beribadah kita berbeda di saat usia lima puluh dengan saat usia tiga puluh tahun. Mereka yang membiarkan diri mereka dibentuk oleh kasih karunia biasanya meningkat seiring waktu. Dari sudut pandang ini, kegagalan, krisis, dan kesalahan kita dapat menjadi pengalaman pembelajaran. Sering kali hal tersebut dapat membantu kita untuk lebih sadar bahwa hanya Tuhan yang layak kita sembah. Hanya Dia yang dapat memuaskan hasrat terdalam kita akan kehidupan dan kekekalan. Dengan berlalunya waktu, pencobaan dan kesulitan hidup membantu memurnikan hati kita, membuatnya lebih rendah hati dan dengan demikian semakin terbuka kepada Tuhan. Bahkan dosa-dosa kita, melalui iman dan pertobatan, akan membantu kita untuk bertumbuh.

Seperti orang Majus, kita juga harus membiarkan diri kita belajar dari perjalanan hidup yang ditandai dengan ketidaknyamanan perjalanan. Kita tidak bisa membiarkan keletihan, kejatuhan, dan kegagalan mematahkan semangat kita. Sebaliknya, kita mengakui itu semua dengan rendah hati sehingga kita memiliki kesempatan untuk maju menuju Tuhan Yesus. Hidup bukanlah tentang memamerkan kemampuan kita, tetapi sebuah perjalanan menuju Dia yang mencintai kita. Kita tidak boleh memamerkan kebajikan kita dalam setiap langkah hidup kita; sebaliknya, dengan kerendahan hati kita harus berjalan menuju Tuhan.

Ketiga, “melihat“, seperti halnya Orang Majus yang melihat bayi Yesus. Menyembah adalah tindakan penghormatan yang diperuntukkan bagi penguasa dan pejabat tinggi. Orang Majus menyembah Dia yang mereka tahu adalah raja orang Yahudi (lih. Mat 2: 2). Tapi apa yang sebenarnya mereka lihat? Mereka melihat seorang anak miskin dan ibunya. Namun orang-orang bijak dari negeri yang jauh ini mampu melihat melampaui lingkungan ketidakberdayaan tersebut. Mereka mampu mengenali hadirnya kerajaan dalam diri bayi Yesus. Mereka mampu “melihat” melampaui penampilan duniawi.

Untuk menyembah Tuhan kita perlu “melihat” di balik tabir hal-hal yang terlihat, yang seringkali terbukti menipu. Herodes dan warga terkemuka Yerusalem mewakili keduniawian yang diperbudak oleh penampilan. Mereka melihat, namun mereka tidak dapat melihat. Bukan karena mereka tidak percaya, tapi mereka tidak tahu bagaimana melihat karena mereka budak penampilan dan mencari apa yang menarik. Mereka hanya menghargai hal-hal yang sensasional dan menarik perhatian orang banyak. Dalam diri Orang Majus, kita melihat pendekatan berbeda yang dapat kita definisikan sebagai realisme teologis (cara untuk memahami realitas obyektif dari berbagai hal dan mengarah pada kesadaran bahwa Tuhan menghindari semua kesombongan). Tuhan ada dalam kerendah hatian. Kesombongan merupakan produk keduniawian. Tuhan yang kita sembah sering kali tersembunyi dalam situasi sehari-hari, pada orang miskin, dan mereka yang berada di pinggiran.

Sumber: https://www.vaticannews.va, https://www.americamagazine.org, https://youtu.be/w-4ZKrdTHvQ