Ekaristi Hari Raya Epifani

Kegiatan

Hidup adalah persembahan. Hidup kita seperti halnya tiga Orang Majus yang memberikan peresembahan terbaik bagi Tuhan. Itulah pesan yang disampaikan Romo Fajar dalam Ekaristi Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), Minggu, 3 Januari 2021 pukul 7.00 WIB. Umat yang hadir dengan protokol kesehatan tampak khidmat merayakan kisah penyembahan Orang Majus dari Timur kepada Bayi Yesus di palungan Bethlehem. Romo Fajar juga mengingatkan umat di Bonoharjo agar pandai membaca tanda-tanda zaman seperti halnya Orang Majus yang melihat tanda kehadiran Sang Mesias melalui bintang terang. “Kami telah melihat bintangnya di Timur, dan datang untuk menyembah Dia”.

Romo Fajar memimpin ekaristi Hari Raya Epifani di Gereja St. Maria Mater Dei Bonoharjo
Umat dicek suhunya sebelum memasuki area Gereja Bonoharjo

Berbeda dengan gereja di Indonesia, gereja di Italia dan Vatikan merayakan Epifani pada hari ke-12 setelah Natal, saat Orang Majus tiba di palungan Yesus. Tahun 2021 ini bertepatan dengan hari Rabu, 6 Januari yang selalu merupakan hari libur nasional di kedua negara tersebut.

Biasanya pada tanggal tersebut Bapa Paus memberikan homili tertulisnya (SOLEMNITY OF THE EPIPHANY OF THE LORD). Di tahun 2020 lalu, Paus Fransiskus menyampaikan bahwa ibadah adalah akhir dan tujuan perjalanan para Majus. “Mereka melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia”. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa begitu kita kehilangan rasa ibadah, kita kehilangan arah dalam kehidupan Kristiani. Arah tersebut merupakan perjalanan menuju Tuhan, bukan menuju diri kita sendiri. Injil memperingatkan kita tentang risiko ini, karena di samping orang Majus, Injil juga menghadirkan orang lain yang tidak mampu menyembah.

Paus Fransiskus menyampaikan homili pada Hari Raya Epifani tahun 2020

Raja Herodes menggunakan kata menyembah, tetapi hanya untuk menipu. Dia meminta orang Majus untuk memberitahunya di mana anak itu ditemukan, “Supaya aku juga bisa datang dan memujanya”. Faktanya, Herodes hanya menyembah dirinya sendiri. Itulah sebabnya dia ingin melepaskan dirinya dari anak itu melalui kebohongan. Apa yang diajarkan hal ini kepada kita? Bahwa bisa jadi ketika kita tidak menyembah Tuhan, kita akhirnya menyembah diri kita sendiri.

Berapa kali kita telah mengacaukan kepentingan Injil dengan kepentingan kita sendiri? Berapa kali kita menyelubungi religiusitas hal-hal yang kita anggap nyaman? Berapa kali kita telah mengacaukan kekuatan Tuhan untuk melayani orang lain, dengan kekuatan dunia ini untuk melayani diri kita sendiri!

Imam kepala dan ahli Taurat yang memberitahu Herodes dengan sangat tepat di mana Mesias akan lahir: di Betlehem di Yudea. Mereka tahu nubuat dan bisa mengutipnya dengan tepat. Mereka tahu ke mana harus pergi. Mereka adalah ahli agama (teolog) hebat. Tapi mereka tidak pergi ke sana, tidak menemui Yesus!

Kita diajak untuk tidak cukup menjadi berpengetahuan. Kita perlu melangkah ke luar dari diri kita sendiri, kita bertemu orang lain, dan menyembah; barulah kita dapat mengenal Tuhan. Teologi dan keefektifan pastoral tidak berarti apa-apa kecuali kita bertekuk lutut; kecuali jika kita berlutut seperti orang Majus yang tidak hanya memiliki pengetahuan tentang perencanaan perjalanan, tetapi juga mampu berangkat dan sujud dalam ibadah. Begitu kita beribadah, kita menyadari bahwa iman bukan sekadar sekumpulan doktrin/ajaran yang bagus, tetapi hubungan dengan pribadi yang hidup yang kita panggil untuk kita kasihi.

Dalam perjumpaan dengan Yesus secara langsung kita dapat melihat dia sebagaimana adanya. Melalui penyembahan, kita menemukan bahwa kehidupan Kristiani adalah kisah cinta dengan Tuhan, di mana yang paling penting bukanlah ide-ide bagus kita tetapi kemampuan kita untuk menjadikannya pusat kehidupan kita, seperti yang dilakukan kekasih dengan orang yang mereka cintai. Inilah seharusnya Gereja; seorang penyembah yang mencintai Yesus, pasangannya.

Menyembah berarti menempatkan Tuhan di pusat, bukan diri kita sendiri. Ibadah berarti membuat rencana Tuhan lebih penting daripada waktu pribadi kita, hak kita, dan ruang kita.

Kita tunggu pesan Bapa Suci pada Epifani tahun ini … .

Sumber: http://www.vatican.va, https://id.traasgpu.com, & https://todayscatholic.org